NATAL

Muhammad Alghazali Siswa SMPN 2 Kotamobagu yang Banjir Prestasi

0

KOTAMOBAGU — Di rumah, Muhammad Alghazali Setyawan masih seperti anak berusia 12 tahun pada umumnya: suka dimanja orang tua, bercanda, dan menikmati waktu bersama keluarga. Namun suasana berubah total ketika siswa kelas VII SMP Negeri 2 Kotamobagu itu mengenakan dobok dan melangkahkan kaki ke dojang. Di sana, ia bukan lagi anak yang suka dimanja, melainkan seorang petarung kecil yang berani menghadapi lawan, menjaga konsentrasi, dan mempertanggungjawabkan setiap gerakan yang dilatihnya.

 

Dua Medali Sekaligus di Tomohon

 

Performa terbaru Alghazali kembali memukau. Dari GOR Babe Palar, Kota Tomohon, akhir Agustus 2026, ia pulang membawa dua medali sekaligus dari ajang Piala Wali Kota Tomohon Cup II (29–30 Agustus 2026):

 

-Medali Emas — Poomsae Cadet Putra

-Medali Perak — Kyorugi Cadet Putra Under 41 kg

 

Poomsae menuntut ketepatan dan kualitas rangkaian jurus, sedangkan kyorugi adalah pertarungan langsung melawan lawan — dua nomor dengan karakter yang berbeda, namun sama-sama dikuasai dengan gemilang oleh Alghazali.

 

Sejak 2023 hingga pertengahan 2026, Alghazali telah mengoleksi 26 penghargaan: 15 dari taekwondo dan 11 dari sepak bola. Bukan sekadar benda pajangan, di balik setiap medali ada cerita tentang latihan tanpa henti, kedisiplinan, dukungan orang tua, waktu untuk sekolah, mengaji, serta pola asuh yang membentuknya tumbuh dengan karakter yang kuat.

 

Dari Lapangan Sepak Bola Menuju Dojang

 

Alghazali sebenarnya lebih dulu mengenal dunia olahraga melalui sepak bola. Sejak 2023, ia aktif mengikuti berbagai turnamen usia dini dan mulai mencatat prestasi: bagian dari tim juara Sangadi Cup Bungko U-10, kemudian juara di Wiraprima Cup Minahasa Utara U-10 (2024), dan Sipatuo Jr Cup U-10 (2025).

 

Ketika mengenal taekwondo, ia menemukan arena baru yang melengkapi dirinya. Jika sepak bola mengajarkan kerjasama tim, kyorugi memaksanya berdiri sendiri menghadapi lawan. Sementara poomsae mengajarkan bahwa kemenangan tidak hanya soal keberanian, tetapi juga ketepatan, disiplin, dan kemampuan menghafal rangkaian gerakan — kemampuan yang diwarisi dari sang kakek dari pihak ibunya yang dikenal memiliki daya ingat luar biasa. Namun bakat saja tidak cukup: di atas kemampuan itu tetap ada latihan panjang, pengulangan gerakan, koreksi teknik, dan kedisiplinan tinggi.

Darah Atlet dan Rutinitas yang Pada

Kegemarannya pada olahraga juga mengalir dari sang ayah, Wansa, mantan atlet balap motor. Dari ayahnya pula ia sejak kecil diperkenalkan dengan dunia kompetisi. Namun Alghazali menemukan jalannya sendiri melalui dua cabang olahraga yang berbeda.

 

Anak yang Mandi dan Berjiwa Survive

Muhammad Alghazali juga dikenal sebagai anak madiri dan tak merpotkan  kedua orang tuanya. Sejak kelas 1 SD hingga kelas 7 SMP tak pernah meminta jajan sekolah, ia hanya berbekal air putih dan bekal. Sehingga jiwa survivenya sudah terbentuk sejak ia masih duduk dibangku SD kelas 1.

 

Jadwal latihannya pun sangat teratur:

Senin, Rabu, Jumat — Taekwondo di Kotamobagu Fighter Academy, Katulidan, Gogagoman (Poomsae & Kyorugi)

Selasa, Kamis, Sabtu — Sepak bola di lapangan

Rutinitas ini dijalani sejak bangku SD, dan hampir setiap latihan orang tuanya selalu mendampingi — bukan untuk menentukan masa depannya, melainkan memastikan ia bebas menjalani apa yang ia sukai.

Puluhan Podium dalam Empat Tahun

 

Sejak 2025, prestasi taekwondo Alghazali semakin menanjak:

– Emas Kyorugi Pra Cadet C — Bupati Bolmut Cup II

– Perunggu — Gorontalo Open Championship II

– Emas Poomsae & Perak Kyorugi — Piala Wali Kota Tomohon Cup II

– Podium — Piala Gubernur Sulut, Piala Wakil Wali Kota Manado

– Emas & Perunggu — Winners Championship

– Emas — Piala Wali Kota Bitung, Piala Wali Kota Manado

 

Konsistensi ini membuktikan bahwa keberhasilan bukan kebetulan, melainkan hasil latihan berulang-ulang.

 

Hidup Tanpa Gadget, Dekat dengan Keluarga

 

Di tengah dunia anak-anak yang semakin lekat dengan gawai, Alghazali justru tidak dibiasakan memiliki smartphone sendiri. Sang ibu, Hj. Refina C. Adati, mengatakan bahwa ponsel hanya sesekali dipinjamkan untuk kebutuhan belajar dan hiburan dalam waktu terbatas serta pengawasan orang tua. Ia juga tidak dibiasakan menerima uang jajan — setiap hari orang tuanya membekali bekal makanan dan air putih.

 

“Bukan bermaksud mengekang, kami justru ingin tetap dekat dan mendampinginya selagi masih ada kesempatan. Masa seperti ini tidak akan berlangsung selamanya,” ungkap Refina.

 

Selain olahraga dan sekolah, Alghazali juga rutin belajar Al-Qur’an dan telah menyelesaikan hafalan Juz 30.

 

“Saya senang latihan taekwondo dan sepak bola. Memang capek, tapi tidak merasa terbebani karena saya suka. Saya ingin terus latihan supaya bisa lebih baik dan dapat prestasi lagi,” ujar Alghazali.

 

 Anak Mami di Rumah, Petarung di Arena

 

Kontras itulah gambaran paling sederhana tentang Alghazali. Di rumah ia tetap “anak mami” yang suka dimanja, tetapi begitu masuk arena, ia harus berdiri dengan kemampuannya sendiri — tidak ada ayah atau ibu yang bisa masuk ke dalam dojang untuk membantu.

 

Ethward Pakaryanto, pelatih di Kotamobagu Fighter Academy sekaligus Ketua Pengkot TI Kotamobagu, menilai Alghazali sebagai anak yang disiplin dan konsisten dalam latihan.

 

“Dia punya kemauan yang bagus. Tapi saya selalu ingatkan: jangan cepat puas dengan prestasi yang sudah diraih. Tetap latihan, terus belajar, karena ke depan masih banyak prestasi yang bisa diraih,” ujar Ethward.

 

Masih Panjang Perjalanannya

 

Bagi kedua orang tuanya, puluhan medali bukanlah tujuan akhir. Yang jauh lebih berharga adalah proses di balik setiap kemenangan: belajar kalah, bangkit, disiplin, dan berani mencoba lagi. Usianya baru 12 tahun — masih banyak pertandingan yang akan dihadapi, masih banyak kemungkinan yang menantinya.

 

“Saya masih mau terus latihan supaya bisa ikut pertandingan lagi dan dapat prestasi yang lebih baik,” tegas Alghazali.

 

Ketika pulang ke rumah, ia tetaplah anak yang suka bermanja kepada ayah dan ibunya. Namun ketika pintu arena kembali terbuka, ia tahu — di sana ia harus berdiri dengan kemampuannya sendiri. Dan dari situlah juara-juara baru akan lahir.

 

15 PRESTASI ALGHAZALI DI TAEKWONDO

🥇2025 – MEDALI EMAS KYURUGI PRA CADET C PUTRA, PIALA BUPATI BOLMUT CUP 2

🥉2025 – MEDALI PERUNGGU KYURUGI  PRA CADET PUTRA, GORONTALO OPEN CHAMPIONSHIP 2

🥇🥇2025 – 2 MEDALI EMAS KYURUGI PRA CADET PUTRA, POOMSAE PRA CADET PUTRA, PIALA WALIKOTA TOMOHON

🥇🥈2025 – MEDALI EMAS PEMULA KYURUGI PRA CADET C UNDER 38 KG, PERAK POOMSAE PUTRA PRA CADET C, PIALA GUBERNUR SULAWESI UTARA.

🥇🥈2025 – MEDALI EMAS PRA CADET PUTRA POOMSAE, MEDALI PERUNGGU PRA CADET C PUTRA UNDER 38 KG,  PIALA WAKIL WALIKOTA MANADO.

🥇🥉2026- MEDALI EMAS POOMSAE CADET PUTRA, MEDALI PERUNGGU KYURUGI CADET UNDER 37 KG PUTRA, KEJUARAAN WINNERS CHAMPIONSHIP.

🥇2026 – MEDALI EMAS PRESTASI POOMSAE CADET PUTRA INDIVIDUAL, KEJUARAAN PIALA WALIKOTA BITUNG.

🥇🥇2026 – MEDALI EMAS KYURUGI PUTRA CADET UNDER 41 KG, MEDALI EMAS POOMSAE PUTRA CADET. PIALA WALIKOTA MANADO

🥇🥈2026 – MEDALI EMAS INDIVIDUAL CADET PUTRA, MEDALI PERAK CADET PUTRA UNDER 41 KG, PIALA WALIKOTA TOMOHON CUP II

 

 PRESTASI ALGHAZALI DI SEPAKBOLA

🏆2023 – JUARA 4 FILANESIA NATIONAL CHAMPIONSHIP

🏆2023 – JUARA 1 SANGADI CUP BUNGKO USIA 10 TAHUN

🏆2024 – JUARA 3 SANGADI CUP BUNGKO II USIA KU10

🏆2024 – JUARA 3 DIKTRA CUP USIA KU10

🏆2024- JUARA 1 WIRAPRIMA CUP MINAHASA UTARA KU 10

🏆2025 – JUARA 1 SIAPATUO JR CUP KU10

 

 

 

🏆2025- JUARA 2 SMS CUP INSPIRE MINAHASA UTARA KU 12

 

 

 

🏆2025 – JUARA 2 KAJATI SULUT CUP I BITUNG KU12

 

🏆2025 – JUARA 2 PANJI YOSUA MINAHASA KAMPUNG PRESIDEN KU 12

 

🏆2025 – JUARA 4 DIKTRA CUP 2 KU12

 

 

🏆2025 – JUARA 4 POYUYAN CUP KU12

Leave A Reply

Your email address will not be published.