Resmikan Closed Barn di Purwodadi, Wamenko Pangan Minta Nestlé dan Pemkab Pasuruan Perkuat Penelitian
PASURUAN – JATIM || Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq, meresmikan fasilitas Closed Barn sekaligus menyerahkan sapi impor dari Nestlé Indonesia kepada peternak sapi perah binaan KUD Dadi Jaya di Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, Selasa (21/7/2026).
Peresmian tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan produktivitas peternakan sapi perah nasional melalui penerapan teknologi modern yang mampu menciptakan lingkungan kandang lebih ideal bagi ternak.
Hanif menjelaskan, sistem Closed Barn merupakan kandang tertutup yang dilengkapi teknologi pengaturan ventilasi, suhu, dan kelembapan secara otomatis. Teknologi ini menjaga kondisi kandang tetap stabil sehingga ternak lebih nyaman, terlindungi dari cuaca ekstrem, serta mengurangi risiko penyebaran penyakit.
“Melalui sistem ini, lingkungan kandang bisa dikendalikan agar tetap optimal. Dampaknya produktivitas sapi maupun hasil susu dapat meningkat,” ujarnya.
Ia juga memberikan apresiasi kepada Nestlé Indonesia yang dinilai tidak hanya berinvestasi pada sektor hilir, tetapi juga memperkuat sektor hulu dengan mendampingi para peternak sapi perah.
Menurut Hanif, inovasi rekayasa iklim melalui Closed Barn membuka peluang pengembangan sapi perah di wilayah dataran rendah. Selama ini, sebagian besar peternakan sapi perah di Indonesia masih terkonsentrasi di daerah pegunungan seperti Lembang di Jawa Barat, serta Pasuruan dan Malang di Jawa Timur.
“Melalui inovasi ini, sapi perah tidak hanya bisa berkembang di pegunungan, tetapi juga berpotensi dipelihara di dataran rendah dengan produktivitas yang tetap tinggi,” katanya.
Ke depan, Hanif berharap Pemerintah Kabupaten Pasuruan bersama Nestlé Indonesia terus memperkuat kerja sama dalam pengembangan teknologi micro climate agar sapi perah asal daerah subtropis dapat beradaptasi dengan baik di wilayah beriklim tropis, khususnya dataran rendah.
Ia menilai pengembangan riset tersebut akan mendukung pembagian kawasan peternakan secara lebih efektif, di mana wilayah pegunungan difokuskan sebagai kawasan konservasi dan pengaturan tata air, sedangkan dataran rendah menjadi sentra produksi susu.
Selain itu, Hanif menegaskan peningkatan produksi susu dalam negeri menjadi kebutuhan mendesak. Saat ini konsumsi susu nasional mencapai sekitar 4,7 juta ton per tahun, sementara sekitar 75 hingga 80 persen kebutuhan masih dipenuhi melalui impor.
Rendahnya populasi sapi perah menyebabkan produksi dalam negeri baru mampu memenuhi sekitar 20 hingga 25 persen kebutuhan nasional.
Ia menambahkan, Jawa Timur masih menjadi provinsi penghasil susu terbesar di Indonesia dengan kontribusi lebih dari separuh produksi nasional.
Sementara itu, Bupati Pasuruan, Rusdi Sutejo, menyampaikan apresiasi kepada Nestlé Indonesia atas komitmennya mendukung pengembangan peternakan sapi perah sekaligus berbagai program sosial, termasuk penanganan stunting di Kabupaten Pasuruan.
Menurutnya, pembangunan fasilitas Closed Barn menjadi langkah strategis dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan peternak lokal.
“Nestlé menunjukkan komitmen yang luar biasa karena tidak hanya memperhatikan hasil akhirnya, tetapi juga membangun kemitraan dengan peternak sebagai fondasi utama pengembangan industri susu nasional,” ujar Rusdi.
Ia optimistis penerapan teknologi kandang modern akan membantu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor susu sekaligus mendorong peningkatan produksi susu segar dari peternak lokal di Kabupaten Pasuruan.(AL)

