DPRD Probolinggo Respons Banjir Opo-Opo, Komisi III Siap Normalisasi Sungai dan Evaluasi Jembatan
PROBOLINGGO – JATIM || Banjir tahunan yang kerap menghantui warga Desa Opo-Opo, Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo, akhirnya mendapat perhatian serius dari DPRD setempat.
Komisi III DPRD Kabupaten Probolinggo menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama perwakilan warga Dusun Sumber Banger, Rabu (28/1/2026).
Dalam forum tersebut, warga menyampaikan keluhan terkait banjir yang terus berulang setiap musim hujan. Luapan sungai kerap memasuki rumah penduduk ketika intensitas hujan meningkat, sehingga menimbulkan keresahan berkepanjangan.
Warga menilai terdapat tiga faktor utama penyebab banjir yang hingga kini belum tertangani secara menyeluruh.
Pertama, pendangkalan sungai akibat sedimentasi yang terjadi dalam waktu lama, sehingga kapasitas tampung air semakin berkurang.
Kedua, kondisi jembatan yang terlalu rendah. Jembatan berbahan kayu kerap menjadi titik tersangkutnya sampah dan material hanyut, yang mengakibatkan aliran sungai tersumbat dan air meluap ke permukiman warga.
Ketiga, kerusakan kawasan hulu. Warga menduga berkurangnya tutupan hutan menyebabkan limpasan air ke wilayah hilir meningkat drastis saat hujan deras.
“Kami selalu waswas setiap mendung tebal datang. Kami berharap ada tindakan nyata agar warga bisa merasa aman,” ujar Rifai.perwakilan warga Dusun Sumber Banger.
Menanggapi aspirasi tersebut, Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Probolinggo, Mochammad Al Fatih, menegaskan pihaknya akan mengambil langkah cepat dan terukur.
Dalam waktu dekat, Komisi III DPRD berencana melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi jembatan serta titik-titik pendangkalan sungai untuk menentukan koordinat normalisasi.
Selain itu, DPRD juga akan berkoordinasi dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait guna mengevaluasi kondisi lingkungan di kawasan hulu.
“Kami akan turun langsung ke lapangan sebelum langkah normalisasi dilakukan. Permasalahan di hulu juga akan kami pastikan agar penanganannya tuntas dari hulu hingga hilir,” tegas Al Fatih
Warga berharap sidak tersebut tidak berhenti pada tahap peninjauan semata, melainkan segera ditindaklanjuti dengan pengerahan alat berat. Mengingat cuaca ekstrem pada awal 2026 masih berlangsung, percepatan penanganan dinilai sangat krusial guna mencegah kerugian yang lebih besar. (AL)


